PENDIDIKAN Kejujuran, Oleh Ayah Dery Ketua Forum Ayah Cianjur
Assalamualaikum ayah hebat , sampurasun upami ku abdi di taros…. Mana yang efektif, pendidikan kejujuran melalui nasihat dan aturan, atau lewat pengalaman emosional anak?
Iyes, dua-duanya tentu peryogi Tapi, nilai kejujuran akan lebih kuat tertanam dalam diri anak melalui keteladanan. Anak belajar jujur ketika ia melihat kejujuran dihidupkan oleh figur yang paling ia percayai, ayahnya. Ini psikologi anak.
Kenapa ada judul DARMAJI diatas? Ayah ayah tau kan apa itu darmaji? Wama adroka ma Darmaji?
Naah, begini ceritanya.
Sekitar sepekan yang lalu, saya ngajak istri dan anak-anak napak tilas menelusuri jejak masa lalu: melihat-lihat tempat saya dulu bersekolah di kawasan pangeran Hidayatullah yaitu SMAN 1 Cianjur sekolah favorit pada jamannya, banyak sekali yang telah berubah. Bangunan bertingkat menggantikan ruang-ruang lama, dan lingkungan pun terasa jauh berbeda dibandingkan tiga hingga empat dekade silam.
Di gedung SMANSA itulah, berdiri sebuah kantin yang selalu menjadi tempat pelarian terindah setelah beradu peluh dg fisika dan metematika, ayah yg dhoif ini bercerita kepada anak-anak tentang masa kecil ayah, tentang kenakalan kecil yang dulu mungkin dianggap sepele, tetapi menyimpan pelajaran besar. Tepat di depan kelas dahulu ada sebuah warung kantin sederhana. namanya kantin Mang Elih. Di sanalah ayah kecil sering jajan bala bala. Pernah makan tiga bala bala, tetapi hanya bayar hiji (Darmaji) Sebuah “kenakalan anak-anak” yang kala itu terasa ringan, bahkan lucu.
Belakangan dirasa, ternyata peristiwa napak tilas tersebut menyimpan pelajaran berharga.
Sebagai pesan moral saja, ingatan semacam ini penting. Anak jadi tahu bahwa orang tuanya bukan sosok tanpa salah. Justru dengan mengakui kesalahan masa lalu, ada satu pesan penting: kejujuran dimulai dari keberanian mengakui kekeliruan.
Saat itu juga, penulis berusaha mencari tahu mang Elih dengan niat meminta maaf. Ternyata beliau telah pulang kampung. Kami hanya bertemu dengan saudaranya yang masih berjualan dekat smansa itu. Dia mengatakan mang elih istri dan anak-anaknya sudah lama pulang kampung ke Ciamis. Dengan perasaan haru, penulis menyampaikan maksud kedatangan, meminta maaf atas perbuatan masa kecil, seraya menitipkan sejumlah uang untuk disampaikan kepada Mang elih.
Bagi anak-anak, peristiwa ini menjadi pengalaman belajar yang sangat kuat. Kata para ahli, tindakan ini disebut moral modeling: anak belajar nilai moral bukan dari instruksi, tetapi dari tindakan nyata yang melibatkan emosi, empati, dan tanggung jawab. Mereka menyaksikan bahwa kejujuran bukan hanya tentang berkata benar hari ini, tetapi juga tentang membereskan kesalahan di masa lalu, sejauh yang kita mampu.
Tertanam pemahaman bahwa kejujuran bukan sesuatu yang instan atau murah. Ia menuntut kerendahan hati, keberanian, dan kepedulian pada orang lain. Anak belajar bahwa meskipun kesalahan itu kecil dan sudah lama berlalu, tetap ada nilai untuk memperbaikinya.
Lebih dari itu, ada pengajaran bahwa integritas tidak berhenti pada pengawasan atau hukuman, tetapi pada suara hati. Dengan harapan anak-anak tumbuh bersama keteladanan. Bisa membawa kompas moral dalam dirinya, bahkan saat tidak ada orang yang melihat.
Pada akhirnya, pendidikan kejujuran bukan tentang menjadikan anak takut berbuat salah, melainkan tentang membimbing anak menjadi pribadi yang berani bertanggung jawab. Dan pelajaran itu, sering kali, justru lahir dari kisah sederhana, seorang ayah, sebuah warung kecil, bala bala, jajanan kantin dan kejujuran yang dibayar lunas oleh keteladanan.
Sahabat ayah punya cerita yang mirip?
Wallahu’alam
RAIH KESEMPATAN AMAL SHOLEH DENGAN MENYEBARKAN TULISAN INI. Jazakumullah khair🙏
https://chat.whatsapp.com/HszoGp4Uxs93BVyLlfkxWf?mode=gi_t
