“Orang Tua Bukan Penanggung Derita Anak”
Oleh Ayah Dery, Ketua Forum Ayah Cianjur
MINDSET, keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Sejatinya ayah-bunda sedang meletakkan fondasi keilmuan yang paling penting bagi keluarga. Lingkungan awal punya pengaruh besar terhadap cara anak berpikir, belajar, dan memaknai dunia. Jika rumah diposisikan sebagai sekolah, tentulah ia memiliki satu unsur utama: PERPUSTAKAAN.
Kyai Hasan berpesan kepada para keluarga dakwah agar menghadirkan perpustakaan dirumah, sekecil apapun.
Tidak harus luas, megah, atau penuh rak tinggi. Sekecil apa pun, punya makna psikologis yang kuat. Memberi pesan diam-diam kepada anak bahwa rumah ini adalah tempat mengilmui diri, tempat bertumbuh, dan tempat ilmu dihormati. Dengan adanya perpustakaan keluarga, rumah tidak sekadar menjadi tempat beristirahat, tetapi berubah menjadi MAJELIS ILMU.
Lengkapi perpustakaan dengan buku-buku agama dan buku-buku umum yang bermanfaat bagi konsumsi akal anak. Buku-buku tersebut bukan hanya sumber informasi, tetapi juga jendela dunia. Paparan bacaan yang kaya sejak dini akan memperluas kosakata, memperkuat daya imajinasi, dan menstimulasi perkembangan kognitif anak.
Kehadiran buku di rumah secara perlahan menanamkan kecintaan anak pada ilmu. Anak yang sering melihat buku akan merasa buku adalah sesuatu yang normal dan dekat. Ia akan mulai membuka, membaca, dan bertanya. Dari kebiasaan kecil ini, membaca berubah menjadi hobi. Dari hobi, ia tumbuh menjadi kebutuhan.
Ketika anak terbiasa membaca, wawasannya semakin luas. Sel-sel otaknya lebih aktif karena terus distimulasi oleh ide, cerita, dan pengetahuan baru. Anak menjadi lebih haus akan informasi, lebih penasaran, dan lebih berani mengeksplorasi pemikiran. Inilah proses alami yang disebut sebagai intrinsic motivation, dorongan belajar yang muncul dari dalam diri, bukan karena terpaksa.
Kebiasaan membaca membantu anak berpikir lebih logis dan terstruktur. Anak belajar memahami sebab-akibat, menyusun alur berpikir, dan membangun argumentasi. Ia tidak mudah terpancing emosi, karena terbiasa mengolah informasi sebelum mengambil kesimpulan. Ini adalah bekal penting bagi kehidupan sosial dan akademik anak di masa depan.
Anak punya kemampuan yang mumpuni. Baik itu membaca yang tertulis secara tekstual, maupun membaca fenomena sosial di sekitar, secara kontekstual.
Lebih dari itu, anak yang akrab dengan buku akan menjadikan buku sebagai teman duduk terbaiknya. Dalam sunyi, ia belajar berdialog dengan gagasan. Akalnya terasah, analisisnya tajam, dan kepekaannya terhadap persoalan hidup semakin matang. Semua ini tumbuh bukan karena ayah sering menyuruh, melainkan karena ayah menghadirkan ekosistem belajar di rumah.
Pada akhirnya, perpustakaan keluarga bukan sekadar kumpulan buku. Ia adalah simbol VISI AYAH terhadap masa depan anak. Dari rak-rak sederhana di rumah, kita sedang menyiapkan fondasi peradaban besar di masa yang akan datang. Dan semua itu dimulai dari satu keputusan kecil namun bermakna: menghadirkan perpustakaan di rumah.
Wallahu’alam
Cianjur, 4 Februari 2026
💦💧💦💧💦
RAIH KESEMPATAN AMAL SHOLEH DENGAN MENYEBARKAN TULISAN INI. Jazakumullah Khairu Jaza 🙏
Mari Gabung Forum Ayah Cianjur https://chat.whatsapp.com/HszoGp4Uxs93BVyLlfkxWf

